Gemilang Diary
Minggu, 09 Juni 2019
Trauma karena Mengalami Pelecehan Membuatku Jadi Wanita yang Berbeda
Aku pernah membayangkan bagaimana akan memiliki kehidupan yang indah kedepannya. yang nyatanya semua mimpiku berbalik arah hanya dalam semalam. Malam itu, adalah awal dari keterpurukanku. aku hanyalah korban dari peringai lelaki yang tidak ingin kusebut sebagai manusia. Dia hanya perenggut kebahagiaanku juga orang tuaku. yang aku herankan kepada dunia, kenapa tidak satupun makhlukmu memihakku ? kenapa tidak ada yang mengulurkan tanganmu kepadaku ?
Hei, kenapa ucapan kalian sangat tajam ? terutama kamu bimo, hidup berdampingan denganmu tidak mengembalikan kebahagiaanku. tanganmu yang melayang kepipiku dengan keras, ucapanmu yang sangat kasar, aku sudah tidak tahan! Jiwaku tidak akan kuat menanggung ini semua sendirian, aku butuh sandaran, aku ingin bantuan. tolong bantu aku !! siapapun !!
Aku menangis sejadi-jadinya. Kututup mulutku untuk meredam suara tangisku. Aku takut suaraku terdengar oleh warga yang suka berlalu lalang melewati tenda kami. Aku takut akan mencoreng nama baik sekolahku jika warga tahu bahwa ada seorang guru yang melakukan tindak pelecehan kepada muridnya sendiri dalam kegiatan perkemahan di sekolahku. Bagaimana kalau karena kejadian itu kegiatan perkemahan dihentikan? Atau orangtua murid tidak mengizinkan anaknya mengikuti kegiatan Pramuka gara-gara kejadian yang menimpaku? Karena itu aku lebih memilih bungkam. Aku hanya berharap teman-teman yang sedang hiking segera kembali. Agar aku tidak sendirian. Kuusap tangisku, kuatur napasku dan mencoba bersikap biasa.
Beberapa bulan kemudian, aku mendengar kabar tragis dari guru pembimbing Pramuka itu. Dia mengalami kecelakaan lalu lintas saat pulang mengajar. Sepertinya kecelakaan yang cukup tragis, sampai dia mengalami koma. Teman-teman dan guru-guru di sekolahku banyak yang berencana menjenguk dia di rumah sakit. Termasuk Isma. Isma memang bisa dibilang cukup dekat dengan guru itu. Sepertinya orangtuanya mengenal guru itu. Orang tua Isma memang cukup terpandang, dia dikenal di kalangan guru-guru. Pantas jika meskipun Isma lebih cantik dariku tapi dia tidak mengalami pelecehan seperti yang kualami, mungkin karena guru itu cukup menghormati orangtua Isma.
Beberapa hari kemudian, kami mendengar kabar guru itu meninggal dunia. Isma menangis. Sepertinya dia sangat terpukul dengan kepergian guru itu.
“Kemarin aku baru aja mimpi didatangi dia. Dia ngasih nasihat supaya aku nggak nakal di sekolah,” kata Isma sambil terisak.
Aku memeluknya. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aku sedih melihat Isma dan teman-teman lain yang terlihat begitu terpukul dan kehilangan. Ah Tuhan, baru saja kemarin aku meminta kepada-Mu untuk melenyapkannya dari muka bumi. Sekarang, dia benar-benar lenyap dari muka bumi. Tapi aku merasa seperti ikut merasakan kesedihan yang teman-temanku rasakan.
Kami pergi melayat ke rumah duka. Di sana, aku melihat anak dan istrinya dengan mata sembab bekas tangis. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana kalau mereka tahu suaminya pernah melakukan tindakan keji kepada muridnya sendiri? Ah biarlah, aku sudah menutup dalam-dalam kejadian itu. Tidak pernah ada yang tahu tentang kejadian itu kecuali aku dan Tuhan.
Sepulang takziah, aku pulang ke rumah Isma. Isma mencurahkan kesedihannya kepadaku. Namun aku tidak bisa lagi memendam kejadian itu dari Isma. Setelah Isma terlihat tenang, aku menceritakan detail kejadian itu kepadanya. Isma kaget.
“Kenapa nggak cerita dari dulu?” kata Isma.
“Aku takut, Ma.”
Isma memelukku. “Iya aku ngerti gimana perasaan kamu. Tapi harusnya kamu cerita aja sama aku. Kamu tahu kan, aku nggak akan ember,” kata Isma.
“Tapi aku juga mau bilang makasih ya sama kamu. Kamu udah baik banget meski kamu udah diperlakukan tidak menyenangkan seperti itu. Kamu masih mau menjaga nama baik bapak itu. Kamu masih memikirkan nasib keluarganya. Kamu baik banget," lanjut Isma.
Ilustrasi./Copyright pexels.com/kaboompics
Isma lalu melepaskan pelukannya. Dia mencium keningku. “Sudah, sekarang, kamu lupain kejadian itu, ya. Kamu maafin dia ya. Takutnya bapak itu nggak tenang di kuburnya. Kasihan,” kata Isma.
Aku memejamkan mata, lalu menganggukkan kepala menyetujui permintaan Isma. Berat sebenarnya, tapi Isma benar. Aku harus memaafkannya.
Setelah kejadian itu, aku menjadi lebih waspada kepada laki-laki. Aku menghindari kontak fisik dengan mereka. Karena aku merasa yang laki-laki pandang dari perempuan itu hanyalah pikiran mesum yang menjijikkan. Terkadang aku memberikan penolakan yang ekstrem terhadap sentuhan laki-laki. Pernah suatu hari aku sedang lewat di jalan yang ada pangkalan becak di sana. Tukang becak itu sangat tidak sopan. Dia menggodaku yang sedang berjalan di depan becaknya.
“Hai cantik, mau naik becak?” katanya.
Aku merasa risih dengan sapaannya. Tiba-tiba ada tangan yang menarikku. Tak ayal langsung kukeluarkan jurus kepepetku. Kutarik kembali tangan itu dan memelintirkannya ke belakang tubuhnya. Namun setelah kulihat, tangan itu milik Isma. Isma meringis kesakitan dengan perlakuanku.
“Aw sakit...” teriaknya. “Kamu kenapa sih?” tanya Isma.
Aku langsung melepaskan tanganku. “Maaf maaf, Ma. Aku tadi digodain tukang becak soalnya,” kataku. Aku menggaruk rambut belakangku. Aku masih trauma, padahal aku sudah masuk SMA ketika itu. Namun menghilangkan bayangan mengerikan tentang tindakan tidak beradab itu sangat susah. Meski orangnya sudah tidak ada.
Isma menunjukkan wajah malasnya karena mendengar alasanku. Lalu dia mengajakku makan di sebuah kios bakso. Saat kami sedang makan bakso, tiba-tiba datang segerombolan anak muda dengan tampang yang urakan. Dia mencoba mengganggu Isma. Lalu kuhampiri sekelompok pemuda tadi.
“Hey! Jangan ganggu temanku!” tukasku. Anak-anak tadi tampak berhenti mengganggu Isma. Mereka pergi meninggalkan kami.
Isma menatapku kaget. “Makasih ya. Kok kamu bisa segalak itu sih?” katanya dengan masih menampakkan raut muka penuh tanya.
“Hehe...” aku tertawa.
Aku tidak tahu sifatku ini akan menguntungkan atau merugikanku. Tapi begitulah aku setelah mengalami kejadian itu. Aku merasa waspada yang berlebihan kepada laki-laki. Sampai sekarang pun kejadian itu masih meninggalkan jejak trauma yang membuatku tidak bisa menerima kedekatan laki-laki.
Suatu hari, aku pernah memesan ojek online. Tukang ojeknya dengan ramah melayaniku. Aku pikir itu adalah keramahan selayaknya yang diberikan oleh tukang ojek kepada pelanggannya, jadi aku tidak begitu khawatir. Sepanjang perjalanan, dia terus mengajakku mengobrol. Aku tanggapi sewajarnya saja. Aku sudah merasa tidak nyaman sebenarnya, karena biasanya aku sudah merasa risih duduk dekat-dekat dengan laki-laki.
Saat itu pun kuhalangi tempat dudukku dengan tas, agar aku tidak terlalu berdekatan dengan tukang ojek itu. Hingga saat aku sampai rumah, aku menerima pesan whatsapp dari tukang ojek tadi. Saat aku memesan ojek tadi, memang aku meneleponnya menggunakan ponselku. Dan dia pun mungkin tahu namaku dari daftar pesanan tadi. Dia menanyakan hal-hal tidak penting sampai aku merasa risih dibuatnya. Seperti,
“Hai lagi ngapain?”
“Udah makan belum?”
“Bangun, salat malam.”
“Terlalu sibuk ya sampe ga sempet balas?”
Aku jadi risih. Akhirnya aku yang terbiasa vokal mengutarakan perasaan tidak sukaku, aku membalas whatsappnya.
“Maaf mas saya tidak betah ada orang yang mengirimi saya pesan tidak penting seperti itu. Lagian itu nggak pantas. Kalau butuh bantuan tinggal bilang mau bantuan apa. Kalau ada yang penting tinggal kasih tahu kepentingannya apa. Jangan mengganggu seperti itu,” kataku. Akhirnya setelah itu driver ojek online tadi pun tidak pernah lagi menggangguku.
Aku menceritakan kejadian itu kepada Isma. Namun Isma tampak memandangku dengan tatapan sedih.
“Kamu masih belum memaafkan bapak itu, ya? Kamu masih trauma sama kejadian itu?”
Isma memelukku. “Maaf ya, aku nggak peka. Harusnya aku peka kalau kamu pasti tidak mudah melupakan kejadian itu. Kamu pasti akan trauma," katanya.
Aku terdiam. “Aku nggak tahu Ma. Tapi kayaknya terlepas dari trauma itu, aku juga pasti akan risih kalo ada orang asing menggangguku dengan pesan whatsapp beruntun seperti itu,” kataku.
“Iya, aku ngerti. Tapi, kalo aku, palingan langsung aku blokir aja nomornya, nggak perlu ngomong apa-apa. Kalau kamu sampai mengeluarkan kata-kata kasar begitu. Itu karena ada apa-apa sama kamu,” katanya. Aku terdiam.
“Mau ke psikolog?” tanya Isma.
“Ih ngapain?” kataku.
Sepanjang hari aku memikirkan perkataan Isma. Aku gelisah. Bagaimana dengan masa depanku jika aku terus dihantui perasaan trauma seperti itu? Malam ini sudah mulai tarawih, besok sudah mulai puasa. Aku harus melepaskan segala beban agar puasaku kali ini bisa lebih bermakna.
Akhirnya aku membuka sebuah grup di facebook yang berisi orang-orang yang terganggu secara mental. Ada psikolog di sana yang bisa diajak konsultasi secara gratis. Aku menceritakan tentang yang kualami.
“Laki-laki menggoda kita, mungkin karena kita sendiri memberikan peluang untuk dia melakukan itu. Seperti saat mbak (maaf) mengalami kejadian itu, mbak memberikan peluang dengan membiarkan dia masuk tenda mbak. Harusnya kalau mbak sendiri takut, mbak bisa keluar tenda, bergabung sama temen yang sakit itu. Atau jangan izinkan dia masuk tenda,” kata psikolog itu via chat facebook.
“Kalau yang driver ojek online itu, mbak sudah memberi peluang dengan menanggapi keramahan dia. Memang sih, kadang kita juga takut dikira sombong ya kalai diem aja, tapi kadang itu juga perlu. Untuk memberi ketegasan bahwa kita tidak tertarik kepadanya. Biarin aja kita dibilang sombong, toh kita konsumen, konsumen adalah raja bukan?” lanjutnya.
Hm, benar juga. Kataku dalam hati. “Wah makasih banyak ya mbak, aku jadi tahu apa yang harus aku lakukan sekarang,” kataku.
“Lalu gimana ya mbak untuk menghilangkan traumaku? Kan nggak bisa kayak gini terus juga. Kalau semua laki-laki takut kepadaku karena aku galak gimana?” kutanya.
“Kembali ke Tuhan, mbak,” kata psikolog itu. “Banyakin salat malam dan berdoa,” katanya lagi.
Aku tertegun. Benar juga, ada apa dengan salatku? Selama ini aku salat tidak benar-benar dengan hatiku. Aku hanya memenuhi kewajibanku saja.
Aku salat dengan dipenuhi hati yang gelisah, tapi tidak lantas kucurahkan kegelisahanku kepada yang Maha Mendengar Doa. Untungnya malam ini adalah malam pertama bulan Ramadan, di mana di sepertiga malam nanti aku harus bangun untuk sahur. Jadi sekalian aku tunaikan salat tahajud untuk meminta dan mencurahkan segala kegelisahanku kepada-Nya.
Malam ini terasa begitu damai untukku. Seolah semesta pun ikut terhanyut dalam untaian doa-doaku. Aku begitu segar bangun di pagi hari bulan Ramadan. Aku siap melakukan semua pekerjaanku tanpa rasa takut akan hal apapun. Aku membalas sapaan satpam kompleks dengan senyuman, tidak lebih. Mereka tampak kaget dengan aku yang terlihat ramah, tidak lagi seperti orang ketakutan. Bahkan aku meminta tolong kepada mereka untuk menjaga sepedaku selagi aku berangkat kuliah dan naik angkot dari depan kompleksku. Aku melakukan itu dengan mimik muka yang tegas, bukan dengan menunjukkan kelemahanku.
Ya, kepada setiap orang yang kutemui, aku berusaha untuk menyembunyikan kelemahanku dan menunjukkan keramahan lewat ketegasanku agar mereka tidak memperlakukanku semena-mena. Agar mereka tidak berani merendahkanku. Tidak seperti kemarin, aku hanya lebih banyak marah-marah, tapi itu hanya menunjukkan kelemahanku saja.
Aku tidak menginginkannya
Aku pernah membayangkan bagaimana akan memiliki kehidupan yang indah kedepannya. yang nyatanya semua mimpiku berbalik arah hanya dalam semalam. Malam itu, adalah awal dari keterpurukanku. aku hanyalah korban dari peringai lelaki yang tidak ingin kusebut sebagai manusia. Dia hanya perenggut kebahagiaanku juga orang tuaku. yang aku herankan kepada dunia, kenapa tidak satupun makhlukmu memihakku ? kenapa tidak ada yang mengulurkan tanganmu kepadaku ?
Hei, kenapa ucapan kalian sangat tajam ? terutama kamu bimo, hidup berdampingan denganmu tidak mengembalikan kebahagiaanku. tanganmu yang melayang kepipiku dengan keras, ucapanmu yang sangat kasar, aku sudah tidak tahan! Jiwaku tidak akan kuat menanggung ini semua sendirian, aku butuh sandaran, aku ingin bantuan. tolong bantu aku !! siapapun !!
Kartini
Kartini
Seseorang yang memperjuangkan hak
Hak Hak Perempuan yang dianggap sebelah mata oleh kaum lelaki
Kaum Kaum lelaki yang memandang rendah Perempuan
Perempuan yang harus dirumah
Tidak boleh bebas
Tidak boleh memerdekakan dirinya sendiri
Kartini
Pejuang wanita
Wanita yang kuat
Kuat menghadapi stigma
Stigma yang harus dikekang
Layaknya burung dalam sangkar
Kartini
oh kartini
Allhamdu.............lillah......
Rasa Sayangku, Mas Captain
Rasa sayang yang kutulis dalam tetesan air mata ini dengan diam
jernihnya selalu menatapmu bersamanya.
***
Selalu ada yang tak diceritakan,
langit kepada hujan.
Entah pagi bersambut kabut,
Atau mendung yang bikin murung.
***
Waktu menguji kita dengan perpisahan, jarak menguji kita dengan rindu, dan air mata adalah hujan yang ikhlas jatuh di dada masing masing.
***
Serupa gelombang lautan, cinta datang saat kau diam, lalu tiba-tiba hilang saat kaukejar. ~
***
Cinta bisa memberikan cahaya
Pada mata yang sekalipun buta
Cinta juga bisa jadi petaka
Meski pada orang yang di surga
Ah, biarlah …
Cinta tak butuh kata-kata.
***
Aku membiarkanmu menikmati fase-fase tersulit dalam menahan rindu, maka izinkan aku mewujudkan mimpimu untuk mengalami fase terindah untuk melepas rindu. ~
***
Gemelisik daun kering menyadarkanku
bahwa semestamu bukanlah aku.
Kerontang daun terseret angin
melebur menjadi luka hatiku.
***
Setelah tidak dengannya, aku akan selalu mencoba untuk tetap baik-baik saja, sebab aku percaya perasaan itu datang tanpa direncanakan, dan pasti juga akan hilang tanpa direncanakan. ~
***
Tak semudah itu merangkai kata. Jika pun sudah terangkai bibir tak bisa semudah itu mengatakannya. Dan masih terlalu rumit untuk di jelaskan. Diamku adalah mencintaimu !!
KALIAN JAHAT GAES )):
Aku seperti ini bukan karena keinginanku sendiri, tapi pikiran orang orang lah yang telah membuatku seperti ini. pagi, siang, sore dan malam. orang orang melihatku seakan aku adalah orang yang paling hina sedunia, aku tidakmelakukannya. tapi tidak ada satupun orang yang percaya padaku. saat ini, aku terjebak dalam situasi yang sama sekali tidak aku inginkan, yaitu aku harus hidup sama orang yang telah menghancurkan harga diriku dan juga keluargaku. bagaimana kalian bisa melangkah jika kalian memandangku sebelah mata. percuma jika bapak memilih nama gemilang kalo kalian berusaha menyudutkan pemikiran kalian. GEMILANG TIDAK SEPERTI YANG KALIAN KIRA !!!
KALIAN JAHAD GAES ...
Langganan:
Postingan (Atom)